Laman

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label hadits shahih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits shahih. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 03, 2012

konsekuensi cinta kepada rosulullah

Konsekuensi Dan Tanda-Tanda Cinta Kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

[A]. Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan adanya peng-agungan,
memuliakan, meneladani beliau dan men-dahulukan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-Sunnahnya.

[B]. Mentaati apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan Allah memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , karena dengan taat kepada beliau menjadi sebab seseorang masuk Surga.
Kita wajib mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya.
Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah.

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana firman-Nya

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…” [An-Nisaa': 59]

Tekadang pula Allah mengancam orang yang mendur-hakai Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih” [An-Nuur: 63]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk” [An-Nuur : 54]

Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah” [Al-Ahzaab: 21]

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya.

Untuk itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya Azza wa Jalla ketika perang Ahzaab.

Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salam kepada beliau hingga hari Kiamat.”[1]

[C]. Membenarkan apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata menurut hawa nafsunya.

[D]. Menahan diri dari apa yang dilarang dan dicegah oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkan-lah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al-Hasyr: 7]

[E]. Beribadah sesuai dengan apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam syari’atkan, atau dengan kata lain ittiba’ kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Agama Islam sudah sempurna, tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengajarkan ummat Islam tentang bagaimana cara yang benar dalam beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan semuanya.
Oleh karena itu, ummat Islam wajib ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mereka mendapatkan kecintaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kejayaan dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya.

Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya adalah wajib, dan ittiba’ menunjukkan kecintaan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”[Ali ‘Imran: 31]

Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H):

“Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Ra-sulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya”[2]

Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya.

Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat.[3]

[F]. Anjuran Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[4]
Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya ber-shalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzaab: 56]

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”

Dalam ayat di atas, Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintah-kan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).

Adapun makna: “Ucapkanlah salam untuknya” adalah berilah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam penghormatan dengan penghormatan Islam.

Dan jika bershalawat kepada Nabi Muhammad hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau.

Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja.

Misalnya dengan mengucapkan: “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya)” atau hanya mengucapkan:

“‘alaihis salaam (semoga dilimpahkan baginya keselamatan).”

Hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya. Mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib atau sunnah mu-akkadah.

Dalam kitab Jalaa’ul Afhaam, Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan 41 waktu (tempat).

Beliau rahimahullah memulai dengan sesuatu yang paling penting yakni ketika shalat di akhir tasyahhud.

Di waktu tersebut para ulama sepakat tentang disyari’atkan-nya bershalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di antara waktu lain yang beliau sebutkan adalah di akhir Qunut, kemudian saat khutbah, seperti khutbah Jum’at, hari raya dan istisqa’, kemudian setelah menjawab adzan, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar dari masjid, juga ketika menyebut nama beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at. Barangsiapa yang ber-shalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali”[5]

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau menyebutkan ada 40 manfaat. Di antara manfaat itu adalah

1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.

2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

3. Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.

4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika ketika mengucapkan shalawat diiringi dengan permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat.

5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.

6. Shalawat merupakan sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.[6]

Tetapi tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al-Qur-an dan As-Sunnah.
Para ulama Ahlus Sunnah telah banyak meriwayat-kan lafazh-lafazh shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para Sahabatnya Radhiyallahu anhum

Di antaranya adalah dari hadits berikutِ

Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari ‘Abdullah bin Abi Bakr bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari bapaknya dari ‘Amru bin Sulaim Az Zuraqiy telah mengabarkan kepadaku Abu Humaid as-Sa’idiy radliallahu ‘anhu bahwa mereka berkata;

“Wahai Rasulullah, bagaimana caranya kami bershalawat kepada baginda?”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ucapkanlah;

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa shollaita ‘alaa aali Ibrahim wa baarik ‘alaa Muhammadin wa azwaajihi wa dzurriyyatihii kamaa baarakta ‘alaa aali Ibrahim innaka hamiidun majiid”
(Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim dan berilah barakah kepada Muhammad, istri-istrinya dan anak keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Mulia) “.[HR. Bukhari No. 3118]

lihat juga catatan kaki [no 7]

Di antara contoh shalawat-shalawat yang bid’ah adalah:

1. Shalawat thibbul qulub
2. Shalawat naariyah, serta adanya keyakinan bathil bahwa barangsiapa yang membacanya 4444 kali maka akan dilapangkan kesulitannya. Shalawat naariyah ini mengandung kesyirikan.
3. Shalawat al-faatih, serta adanya anggapan bahwa membaca shalawat ini lebih baik daripada membaca Al-Qur’an, dan lain-lainnya. Shalawat al-faatih ini adalah perbuatan bid’ah.
4. Shalawat basyisyiyah.[8]

Setiap muslim harus menjauhkan semua bentuk shalawat bid’ah yang tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajib ber-pegang kepada hadits-hadits shahih yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena apa yang beliau ajarkan sudah cukup dan memadai, tidak boleh ditambah lagi.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi yang mulia ini, juga bagi keluarga beliau, para Sahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak beliau hingga hari Kiamat.

Larangan Ghuluw (Berlebih-lebihan) Dalam Memuji Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam .

Ghuluw artinya melampaui batas.
Dikatakan: jika ia melampaui batas dalam ukuran. Allah berfirman:

“Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.” [An-Nisaa': 171]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jauhkanlah diri kalian dari ghuluw (berlebih-lebihan) dalam agama, karena sesungguhnya sikap ghuluw ini telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.”[9]

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau orang yang dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.

Sedangkan ithra’ artinya melampaui batas (berlebih-lebihan) dalam memuji serta berbohong karenanya.

Dan yang dimaksud dengan ghuluw dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melampaui batas dalam menyanjungnya, sehingga meng-angkatnya di atas derajatnya sebagai hamba dan Rasul (utusan) Allah, menisbatkan kepadanya sebagian dari sifat-sifat Ilahiyyah.

Hal itu misalnya dengan memohon dan meminta pertolongan kepada beliau, tawassul dengan beliau, atau tawassul dengan kedudukan dan kehormatan beliau, bersumpah dengan nama beliau, sebagai bentuk ‘ubudiyyah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala , perbuatan ini adalah syirik.

Dan yang dimaksud dengan ithra’ dalam hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berlebih-lebihan dalam memujinya, padahal beliau telah melarang hal tersebut melalui sabda beliau:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).’”[10]

Dengan kata lain, janganlah kalian memujiku secara bathil dan janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku.

Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap ‘Isa Alaihis Sallam, sehingga mereka menganggapnya memiliki sifat Ilahiyyah.
Karenanya, sifatilah aku sebagaimana Rabb-ku memberi sifat kepadaku, maka katakanlah:

“Hamba Allah dan Rasul (utusan)-Nya.”[11]

‘Abdullah bin asy-Syikhkhir Radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Ketika aku pergi bersama delegasi bani ‘Amir untuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami berkata kepada beliau, “Engkau adalah sayyid (penghulu) kami!”
Spontan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sayyid (penghulu) kita adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala!”
Lalu kami berkata, “Dan engkau adalah orang yang paling utama dan paling agung kebaikannya.”
Serta merta beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
“Katakanlah sesuai dengan apa yang biasa (wajar) kalian katakan, atau seperti sebagian ucapan kalian dan jangan-lah sampai kalian terseret oleh syaitan”[12]

Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Sebagian orang berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, wahai orang yang terbaik di antara kami dan putera orang yang terbaik di antara kami!
Wahai sayyid kami dan putera penghulu kami!’
Maka seketika itu juga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Wahai manusia, ucapkanlah dengan yang biasa (wajar) kalian ucapkan! Jangan kalian terbujuk oleh syaitan, aku adalah Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak suka kalian mengangkat (menyanjung)ku di atas (melebihi) kedudukan yang telah Allah berikan kepadaku. [13]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci jika orang-orang memujinya dengan berbagai ungkapan seperti:
“Engkau adalah sayyidku, engkau adalah orang yang terbaik di antara kami, engkau adalah orang yang paling utama di antara kami, engkau adalah orang yang paling agung di antara kami.
” Padahal sudah diketahui sesungguhnya beliau adalah makhluk yang paling utama dan paling mulia secara mutlak. Meskipun demikian, beliau melarang mereka agar menjauhkan mereka dari sikap melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam menyanjung hak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk menjaga kemurnian tauhid.

Selanjutnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan mereka agar menyifati beliau dengan dua sifat yang merupakan derajat paling tinggi bagi hamba yang di dalamnya tidak ada ghuluw serta tidak membahayakan ‘aqidah.

Dua sifat itu adalah ‘Abdullaah wa Rasuuluh (hamba dan utusan Allah).

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka disanjung melebihi dari apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dan Allah ridhai.

Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, ber-sumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah.
Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi , dalam kasidah atau anasyid, dimana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Setiap muslim wajib mengetahui bahwa di antara faktor yang menyebabkan manusia menjadi kafir dan meninggalkan agama mereka yaitu sikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih,
seperti yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, tidak juga suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.’” [QS. Nuh: 23][14]

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2] _________

Foote Note

[1]. Tafsiir Ibni Katsir (III/522-523), cet. Daarus Salaam.

[2]. Tafsiir Ibni Katsiir (I/384), cet. Daarus Salam.

[3]. Sebagian contoh-contoh bid’ah yang masih dilakukan kaum Muslimin seperti: Perayaan dan peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perayaan Isra’ Mi’raj, tawassul dengan orang mati, membangun kubur, dan yang lainnya. Semua ini tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabatnya.

[3]. Bahasan tentang shalawat selengkapnya dapat dilihat pada kitab Jalaa-ul Afhaam fii Fadhlish Shalaah was Salaam ‘alaa Muhammad Khairil Anaam (hal. 453-556), karya al-‘Allamah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dengan tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman.

[4]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal. 158).

[5]. HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, sanad hadits ini hasan. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) oleh Syaikh al-Albani rahimahullah

[6]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 158-159).

[7]. HR. Al-Bukhari (no. 3370/Fat-hul Baari (VI/408)), Muslim (no. 406), Abu Dawud (no. 976, 977, 978), at-Tirmidzi (no. 483), an-Nasa-i(III/47-48), Ibnu Majah (no. 904), Ahmad (IV/243-244) dan lain-lain, dari Sahabat Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu ‘anhu. Untuk mengetahui lafazh-lafazh shalawat lainnya yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi j dapat dilihat dalam buku Do’a dan Wirid (hal. 178-180), oleh penulis, cet. VI/ Pustaka Imam asy-Syafi’i, Jakarta, th. 2006 M.

[8]. Lihat Minhaaj al-Firqatin Naajiyah wat Thaa’ifah al-Manshuurah ‘ala Dhau-il Kitaab was Sunnah (hal. 116-122) oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dan Mu’jamul Bida’ (hal. 345-346).

[9]. HR. Ahmad (I/215, 347), an-Nasa-i (V/268), Ibnu Majah (no. 3029), Ibnu Khuzaimah (no. 2867) dan lainnya, dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits ini shahih menurut syarat Muslim. Dishahihkan oleh Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

[10]. HR. Al-Bukhari (no. 3445), at-Tirmidzi dalam Mukhtasharusy Syamaa-il al-Muhammadiyyah (no. 284), Ahmad (I/23, 24, 47, 55), ad-Darimi (II/320) dan yang lainnya, dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu.

[11]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 151).

[12]. HR. Abu Dawud (no 4806), Ahmad (IV/24, 25), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no 211/ Shahiihul Adabil Mufrad no 155), an-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 247, 249). Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata: “Rawi-rawinya shahih. Dishahihkan oleh para ulama (ahli hadits).” (Fathul Baari V/179) [13]. HR. Ahmad (III/153, 241, 249), an-Nasa-i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah (no. 249, 250) dan al-Lalika-i dalam Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (no. 2675). Sanadnya shahih dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

[14]. Lihat Fat-hul Majid Syarah Kitabut Tauhid bab 18.

Jumat, Juli 29, 2011

DOA BUKA PUASA YANG SHAHIH

Masyhur, tak
selamanya jadi
jaminan.
Begitulah yang
terjadi
pada “doa berbuka puasa”. Doa yang
selama ini terkenal di
masyarakat, belum tentu
shahih derajatnya. Terkabulnya doa dan
ditetapkannya pahala di
sisi Allah ‘Azza wa Jalla
dari setiap doa yang kita
panjatkan tentunya
adalah harapan kita semua. Kali ini, mari kita
mengkaji secara ringkas,
doa berbuka puasa yang
terkenal di tengah
masyarakat, kemudian
membandingkannya dengan yang shahih.
Setelah mengetahui
ilmunya nanti, mudah-
mudahan kita akan
mengamalkannya. Amin. Doa Berbuka Puasa
yang Terkenal di
Tengah Masyarakat Lafazh pertama: َﻚَﻟ َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ ﻰَﻠَﻋَﻭ ُﺖْﻤُﺻ َﻚِﻗْﺯِﺭ ﺕْﺮَﻄْﻓَﺃ ”Ya Allah, untuk-Mu aku
berpuasa dan dengan
rezeki-Mu aku berbuka.” Doa ini merupakan bagian
dari hadits dengan redaksi
lengkap sebagai berikut: ِﻦْﺑ ِﺫﺎَﻌُﻣ ْﻦَﻋ َﺓَﺮْﻫُﺯ ، ُﻪَﻐَﻠَﺑ ُﻪَّﻧَﺃ َّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َّﻥَﺃ ُﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ َﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻥﺎَﻛ َﻢَّﻠَﺳ َﺮَﻄْﻓَﺃ ﺍَﺫِﺇ َﻝﺎَﻗ : َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ ُﺖْﻤُﺻ َﻚَﻟ ، َﻭ َﻚِﻗْﺯِﺭ ﻰَﻠَﻋ ُﺕْﺮَﻄْﻓَﺃ “Dari Mu’adz bin Zuhrah,
sesungguhnya telah
sampai riwayat kepadanya
bahwa sesungguhnya jika
Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam berbuka puasa, beliau membaca (doa),
‘Allahumma laka shumtu
wa ‘ala rizqika afthortu-
ed’ (ya Allah, untuk-Mu
aku berpuasa dan dengan
rezeki-Mu aku berbuka) .”[1] Hadits tersebut
diriwayatkan oleh Abu
Daud, dan dinilaidhaif oleh Syekh al-Albani dalam
Shahih wa Dhaif Sunan Abi
Daud. Penulis kitab Tahdzirul
Khalan min Riwayatil Hadits
hawla Ramadhan
menuturkan, “(Hadits ini)
diriwayatkan oleh Abu
Daud dalam Sunannya (2/316, no. 358). Abu Daud
berkata, ‘Musaddad telah
menyebutkan kepada
kami, Hasyim telah
menyebutkan kepada kami
dari Hushain, dari Mu’adz bin Zuhrah, bahwasanya
dia menyampaikan,
‘Sesungguhnya jika Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam berbuka puasa,
beliau mengucapkan, ‘Allahumma laka shumtu
wa ‘ala rizqika afthartu.
’”[2] Mua’dz ini tidaklah
dianggap sebagai perawi
yang tsiqah, kecuali oleh
Ibnu Hibban yang telah
menyebutkan tentangnya
di dalam Ats-Tsiqat dan dalam At-Tabi’in min Ar-
Rawah, sebagaimana al-
Hafizh Ibnu Hajar berkata
dalam Tahdzib at-Tahdzib
(8/224).[2]
Dan seperti kita tahu bersama bahwa Ibnu
Hibban dikenal oleh para
ulama sebagai orang yang
mutasahil, yaitu
bermudah-mudahan dalam
menshohihkan hadits-ed. Keterangan lainnya
menyebutkan bahwa
Mu’adz adalah seorang
tabi’in. Sehingga hadits ini mursal (di atas tabi’in terputus). Hadits mursal
merupakan hadits dho’if
karena sebab sanad yang
terputus. Syaikh Al Albani
pun berpendapat
bahwasanya hadits ini dho’if .[3] Hadits semacam ini juga
dikeluarkan oleh Ath
Thobroni dari Anas bin
Malik. Namun sanadnya
terdapat perowi dho’if
yaitu Daud bin Az Zibriqon, di adalah seorang perowi
matruk (yang dituduh
berdusta). Berarti dari
riwayat ini juga dho’if.
Syaikh Al Albani pun
mengatakan riwayat ini dho’if .[4] Di antara ulama yang
mendho’ifkan hadits
semacam ini adalah Ibnu
Qoyyim Al Jauziyah.[5] Lafazh kedua: َﻚَﻟ َّﻢُﻬّﻠﻟﺍ َﻚِﺑَﻭ ُﺖْﻤُﺻ ﻰَﻠَﻋَﻭ ُﺖْﻨَﻣﺁ َﻚِﻗْﺯِﺭ ﺕْﺮَﻄْﻓَﺃ “Allahumma laka shumtu
wa bika aamantu wa ‘ala
rizqika afthortu” (Ya
Allah, kepada-Mu aku
berpuasa dan kepada-Mu
aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka).” Mulla ‘Ali Al Qori
mengatakan, “Tambahan
‘wa bika aamantu‘
adalah tambahan yang tidak diketahui
sanadnya, walaupun makna do’a tersebut
shahih.”[6]
Artinya do’a dengan
lafazh kedua ini pun
adalah do’a yang dho’if
sehingga amalan tidak bisa dibangun dengan do’a
tersebut. Berbuka Puasalah
dengan Doa-doa
Berikut Ini Do’a pertama: Terdapat sebuah hadits
shahih tentang doa
berbuka puasa, yang
diriwayatkan dari
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam,َﺐَﻫَﺫ ُﺄَﻤَّﻈﻟﺍ ، ِﺖَّﻠَﺘْﺑﺍﻭ ُﻕﻭُﺮُﻌْﻟﺍ ، ُﺮْﺟَﻷْﺍ َﺖَﺒَﺛﻭ ُﻪﻠﻟﺍَﺀﺎَﺷ ْﻥِﺇ “Dzahabazh zhoma’u
wabtallatil ‘uruqu wa
tsabatal ajru insya Allah-
ed.”
[Telah hilanglah dahaga,
telah basahlah kerongkongan, semoga
ada pahala yang
ditetapkan, jika Allah
menghendaki](Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357] dan
selainnya; lihat Shahih al-
Jami’: 4/209, no. 4678) [7] Periwayat hadits adalah
Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma.
Pada awal hadits terdapat
redaksi, “Abdullah bin
Umar berkata, ‘Jika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam berbuka
puasa, beliau
mengucapkan ….‘” Yang dimaksud dengan ﺮﻄﻓﺃ ﺍﺫﺇ adalah setelah makan atau minum yang menandakan
bahwa orang yang
berpuasa tersebut telah
“membatalkan” puasanya
(berbuka puasa, pen)
pada waktunya (waktu berbuka, pen). Oleh
karena itu doa ini tidak
dibaca sebelum makan
atau minum saat berbuka.
Sebelum makan tetap
membaca basmalah, ucapan “bismillah”
sebagaimana sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa
sallam, َﻞَﻛَﺃ ﺍَﺫِﺇ ْﻢُﻛُﺪَﺣَﺃ ِﺮُﻛْﺬَﻴْﻠَﻓ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻢْﺳﺍ ْﻥِﺈَﻓ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ْﻥَﺃ َﻰِﺴَﻧ َﻢْﺳﺍ َﺮُﻛْﺬَﻳ ﻰَﻟﺎَﻌَﺗ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﻟَّﻭَﺃ ﻰِﻓ ِﻢْﺴِﺑ ْﻞُﻘَﻴْﻠَﻓ ُﻪَﻟَّﻭَﺃ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻩَﺮِﺧﺁَﻭ “Apabila salah seorang di
antara kalian makan,
maka hendaknya ia
menyebut nama Allah
Ta’ala. Jika ia lupa untuk
menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah
ia mengucapkan:
“Bismillaahi awwalahu wa
aakhirohu (dengan nama
Allah pada awal dan
akhirnya)”. (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi
no. 1858. At Tirmidzi
mengatakan hadits
tersebuthasan shahih. Syaikh Al Albani
mengatakan bahwa hadits
tersebutshahih) Adapun ucapanﺖﺒﺛﻭ ﺝﻷﺍ ﺭ maksudnya “telah hilanglah kelelahan dan
telah diperolehlah
pahala”, ini merupakan
bentuk motivasi untuk
beribadah. Maka, kelelahan
menjadi hilang dan pergi, dan pahala berjumlah
banyak telah ditetapkan
bagi orang yang telah
berpuasa tersebut. Do’a kedua: Adapun doa yang lain yang
merupakan atsar dari
perkataan Abdullah bin
‘Amr bin al-’Ash
radhiyallahu ‘anhuma
adalah, ﻲِّﻧﺇ َّﻢُﻬَّﻠﻟَﺍ َﻚُﻟﺄْﺳَﺃ َﻚِﺘَﻤْﺣَﺮِﺑ ْﺖَﻌِﺳَﻭ ﻲِﺘَّﻟﺍ ٍﺀْﻲَﺷ َّﻞُﻛ ، ْﻲِﻟ َﺮِﻔْﻐَﺗ ْﻥﺃ “Allahumma inni as-aluka
bi rohmatikal latii wasi’at
kulla syain an taghfirolii-
ed”
[Ya Allah, aku memohon
rahmatmu yang meliputi segala sesuatu, yang
dengannya engkau
mengampuni aku](HR. Ibnu
Majah: 1/557, no. 1753;
dinilaihasan oleh al-Hafizh dalam takhrij beliau untuk
kitab al-Adzkar; lihat
Syarah al-Adzkar: 4/342)
[8] —
[1] Shahih wa Dhaif Sunan
Abi Daud, Kitab ash-
Shaum, Bab al-Qaul ‘inda
al-Ifthar, hadits no. 2358.
[2] Tahdzirul Khalan min Riwayatil Hadits hawla
Ramadhan, hlm. 74-75.
[3] Lihat Irwaul Gholil,
4/38-ed.
[4] Lihat Irwaul Gholil,
4/37-38-ed. [5] Lihat Zaadul Ma’ad,
2/45-ed.
[6] Mirqotul Mafatih,
6/304-ed.
[7] Syarah Hisnul Muslim,
bab Dua’ ‘inda Ifthari ash-Shaim, hadits no. 176.
[8] Syarah Hisnul Muslim,
bab Dua’ ‘inda Ifthari
ash-Shaim, hadits no. 177.